Nama aku Mbak Yem.
Lima puluh satu tahun.
Sudah tiga belas tahun kerja sebagai cleaning service di Hotel Aryaduta Semanggi.
Aku tidak pernah minta pindah lantai. Tidak pernah minta ganti shift. Tidak pernah komplain soal apapun ke supervisor.
Kecuali satu hal.

Aku tidak mau diberi tanggung jawab kamar 1109.
Tapi tiga belas tahun aku kerja di sini tiga belas tahun kamar 1109 selalu ada di daftar aku.
Seperti kamar itu memilih aku.
Tentang Hotel Aryaduta Semanggi
Hotel bintang empat. Dua puluh dua lantai. Ratusan kamar.
Jakarta tidak pernah tidur. Lampu jalan, suara klakson, gedung gedung yang cahayanya tidak pernah benar benar padam.
Di dalam sunyi yang berbeda dari sunyi di tempat lain. Sunyi hotel adalah sunyi yang dipaksakan. Karpet tebal yang menyerap langkah. Pintu pintu tebal yang menyerap suara. AC sentral yang menghasilkan dengung konstan yang lama lama tidak terdengar lagi karena otak sudah terbiasa mengabaikannya.
Di sunyi seperti itu, aku bekerja dua belas jam sehari.
Masuk pagi jam enam. Pulang sore jam enam.
Atau kalau ada tamu yang late checkout lebih lama.
Kamar 1109 selalu late checkout.
Selalu.
Tidak peduli siapa yang menginap.
Yang Selalu Aku Temukan
Tiga belas tahun. Ratusan tamu yang menginap di kamar 1109.
Dan setiap kali aku masuk untuk bersihkan setelah tamu checkout
Selalu ada rambut di lantai kamar mandi.
Bukan rambut rontok biasa yang wajar ditemukan di kamar hotel.
Ini berbeda.
Jumlahnya banyak selalu banyak, tidak peduli tamunya laki laki atau perempuan, botak atau berambut lebat. Panjangnya selalu sama hampir satu meter. Hitam pekat. Berkilau dengan cara yang tidak wajar untuk rambut yang sudah terlepas dari kepala.
Dan selalu tersusun.
Bukan berserakan di lantai kamar mandi seperti rambut rontok biasa.
Tersusun dalam pola melingkar di tengah lantai. Rapi. Presisi.
Seperti seseorang menghabiskan waktu lama untuk menyusunnya sebelum pergi.
Aku selalu bersihkan. Aku sapu. Aku buang ke tempat sampah khusus yang aku bawa.
Keesokan harinya, kalau ada tamu baru masuk malamnya pola itu ada lagi.
Tamu yang Aku Ingat
Dari semua tamu yang pernah menginap di kamar 1109 ada beberapa yang aku ingat karena sesuatu yang berbeda.
Perempuan paruh baya yang check in sendiri tengah malam dan check out sebelum subuh. Tidak pesan sarapan. Tidak minta layanan apapun. Tapi waktu aku bersihkan kamarnya pagi itu, bau kemenyan masih sangat pekat meski semua jendela sudah aku buka.
Pasangan muda yang menginap dua malam. Waktu check out, perempuannya terlihat sangat pucat dan lemas. Laki lakinya menopang dia keluar. Tapi anehnya laki lakinya terlihat lebih segar dari waktu mereka check in. Lebih cerah. Lebih bersemangat.
Seorang laki laki setengah baya yang menginap seminggu penuh. Setiap pagi aku bersihkan kamarnya dan setiap pagi pola rambut itu ada. Tapi di hari ketiga polanya berubah. Lebih besar. Lebih kompleks. Seperti seseorang yang sedang menyempurnakan sesuatu yang sedang dalam proses.
Di hari ketujuh, laki laki itu check out dengan wajah yang puas.
Dan di lantai kamar mandinya bukan lagi pola melingkar biasa.
Tapi pola yang kalau aku lihat dari atas, dari sudut tertentu, membentuk sesuatu yang menyerupai wajah manusia.
Aku tidak selesaikan membersihkan kamar itu hari itu.
Aku keluar dan bilang ke supervisor aku sakit.
Teman Sesama Cleaning Service
Nama teman aku Lastri. Sama sama cleaning service, tapi Lastri pegang lantai dua belas ke atas. Aku lantai sebelas ke bawah.
Lastri sudah lima tahun kerja di sini. Lebih muda dari aku. Lebih cerewet. Tapi orangnya baik dan sering traktir aku kopi di pantry.
Suatu hari di ruang istirahat, aku cerita soal kamar 1109.
Lastri mendengarkan dengan serius. Tidak menertawakan. Tidak bilang aku terlalu banyak pikiran.
Dia justru bilang sesuatu yang membuat aku berhenti minum kopi.
“Mbak Yem, aku pernah denger dari teman yang kerja di hotel lain. Katanya ada ritual yang namanya Ritual Rambut Sewu. Yang bisa dijalankan di tempat mana aja asal tempatnya punya cukup energi. Hotel itu salah satu tempat yang paling kuat, katanya. Karena banyak orang datang dan pergi. Banyak cerita. Banyak emosi yang tertinggal di dalam kamar kamarnya.”
“Lalu?”
“Kalau ritual itu dijalankan di satu kamar kamar itu jadi semacam… titik kumpul. Semua yang pernah dijalankan di sana meninggalkan bekas. Makin lama makin kuat. Dan orang orang yang peka orang yang sering ada di kamar itu lama lama bisa terpengaruh.”
Aku diam.
“Terpengaruh gimana?” tanya aku akhirnya.
Lastri menatap aku dengan ekspresi yang susah aku baca.
“Tergantung, Mbak. Ada yang jadi pelaku tanpa sadar. Ada yang jadi korban tanpa sadar. Ada yang jadi media. Perantara. Yang tanpa mereka sadari membawa sesuatu dari kamar itu ke tempat lain setiap kali mereka keluar.”
Aku tidak lanjutkan percakapan itu.
Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Yang Aku Notice Tentang Diri Aku Sendiri
Setelah percakapan dengan Lastri, aku mulai perhatikan diri aku sendiri.
Dengan cara yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.
Dan aku menemukan hal hal kecil yang selama tiga belas tahun ini aku tidak pernah hubungkan satu sama lain.
Pertama aku tidak pernah sakit selama tiga belas tahun kerja di sini. Tidak pernah. Tidak flu, tidak demam, tidak sakit punggung meski pekerjaan aku berat. Rekan rekan aku bergantian sakit. Aku tidak pernah.
Waktu itu aku pikir itu keberuntungan. Atau stamina yang baik.
Sekarang aku tidak tahu lagi.
Kedua aku tidak pernah bisa pindah dari lantai sebelas. Tiga kali aku minta rotasi ke lantai lain. Tiga kali supervisor bilang tidak ada slot. Padahal aku lihat sendiri ada rekan yang keluar masuk lantai sesuai keinginan mereka.
Ketiga dan ini yang paling mengganggu aku setelah aku pikir ulang rambut aku.
Rambut aku panjang. Selalu panjang. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku potong rambut.
Aku tanya ke adik aku yang tinggal serumah kapan terakhir kali dia lihat aku potong rambut.
Adik aku berpikir lama.
Lalu dia bilang dia tidak ingat.
“Dari dulu rambut Mbak Yem memang panjang,” kata adik aku. “Dari kecil.”
Aku pergi ke cermin.
Aku lihat rambut aku.
Panjangnya hampir satu meter.
Hitam pekat.
Berkilau.
Hari Ini
Hari ini aku masuk seperti biasa.
Aku ambil trolley. Aku ambil daftar kamar yang harus aku bersihkan. Kamar 1109 ada di nomor paling bawah daftar seperti selalu.
Aku bersihkan sebelas kamar lain dulu.
Lalu aku dorong trolley ke kamar 1109.
Aku ketuk pintu tiga kali. Standar. “Housekeeping.”
Tidak ada jawaban. Tamu sudah checkout.
Aku gesek kartu. Pintu terbuka.
Aku masuk.
Bau kemenyan langsung menyambut. Lebih pekat dari biasanya.
Aku dorong trolley masuk. Aku mulai dari tempat tidur.
Lalu aku ke kamar mandi.
Dan di lantai kamar mandi pola melingkar itu ada.
Seperti selalu.
Aku ambil sapu kecil dari trolley.
Aku berlutut.
Dan waktu tangan aku menyentuh rambut rambut itu untuk mulai menyapunya
Aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dalam tiga belas tahun.
Aku merasakan bahwa rambut rambut itu
Hangat.
Bukan hangat seperti benda yang kena sinar matahari.
Hangat seperti sesuatu yang masih hidup.
Hangat seperti
Hangat seperti kulit kepala aku sendiri.
Aku berhenti bergerak.
Aku pegang satu helai rambut dari pola itu dan aku bawa ke depan wajah aku.
Aku lihat dengan teliti.
Panjangnya hampir satu meter.
Hitam pekat.
Berkilau.
Persis seperti rambut aku.
Tangan aku naik ke kepala aku.
Dan aku baru menyadari sesuatu yang seharusnya aku sadari jauh lebih awal
Sudah tiga belas tahun aku bekerja di hotel ini.
Sudah tiga belas tahun aku membersihkan pola rambut yang sama setiap hari.
Sudah tiga belas tahun rambut aku tidak pernah pendek.
Tidak pernah dipotong.
Tidak pernah berkurang.
Tapi tidak pernah bertambah panjang juga.
Selalu panjangnya sama.
Selalu hampir satu meter.
Selalu hitam pekat.
Selalu berkilau.
Persis seperti yang ada di lantai kamar mandi ini.
Yang sudah aku bersihkan setiap hari.
Yang selalu kembali keesokan harinya.
Yang ternyata
Tidak pernah kembali.
Karena tidak pernah pergi.
***
Kamar 1109 Hotel Aryaduta Semanggi masih beroperasi sampai hari ini.
Mbak Yem masih kerja di sana.
Masih pegang lantai sebelas.
Masih bersihkan kamar 1109 setiap hari.
Dan setiap malam sebelum tidur
Dia menyisir rambutnya.
Menghitung helai yang rontok.
Menyimpannya di laci meja rias.
Tanpa tahu kenapa.
Tanpa bisa berhenti.
Sudah tiga belas tahun.
Dan jumlah yang terkumpul di laci itu
Sudah hampir seribu helai.

