Kampung Lali Gadget. Dalam bahasa Jawa, artinya Kampung Lupa Gadget. Dari sini sudah bisa terlihat bahwa Kampung Lali Gadget (KLG) adalah kampung yang berupaya agar penghuninya lupa dengan gadget. Hal ini selaras dengan tujuan Achmad Irfandi, penggagasnya.

Sumber: Viva
Era digital telah berkembang pesat. Semua aspek kehidupan tidak luput dari sentuhan modern yang segalanya menggunakan gadget. Sebenarnya, adanya gadget memudahkan semua urusan. Interaksi antar sesame jadi mudah, mendapat informasi juga ibarat hanya dengan menjentikkan jari. Kesempatan pun terbuka lebar. Namun, di sisi lain, adanya gadget berdampak menimbulkan bahaya, khususnya bagi anak-anak.
Terpapar gadget bisa membuat anak-anak kecanduan. Anak bisa terus menerus menggunakan gadget, tanpa kenal waktu. Akibatnya, bisa menghambat perkembangan anak, terutama pembentukan karakter. Anak yang terlalu sering menggunakan gadget bisa tumbuh menjadi pribadi yang individualis, tidak suka berinteraksi dengan teman-teman untuk bermain.
Kondisi ini diperparah karena adanya pandemi yang melanda dunia beberapa tahun yang lalu. Anak-anak semakin tergantung pada gadget karena dunia mengharuskan seperti itu. Setelah pandemi selesai, kebiasaan bermain gadget sulit dihentikan. Anak-anak nongkrong di warung kopi mencari Wifi sambil terus aktif menggunakan gadget, menjadi pemandangan yang cenderung “biasa”. Padahal, seharusnya anak-anak bermain secara tatap muka dengan teman-temannya agar kreativitasnya terasah.
Hal ini juga berkaitan dengan eksistensi permainan tradisional. Apabila anak-anak sibuk dengan gadget, selain mengganggu perkembangan, juga berpotensi punahnya permainan tradisional.
Achmad Irfandi dan Program Taman Belajar
Berdasarkan fakta tentang anak dan gadget tersebut, Achmad Irfandi merasa harus melakukan sesuatu. Hal ini demi perkembangan anak-anak yang lebih baik dan mengembalikan dunia anak bahwa anak butuh bermain secara tatap muka serta bersentuhan dengan dunia nyata. Juga, demi menjaga agar permainan tradisional tidak punah. Achmad Irfandi pun membuat program untuk mencapai hal tersebut.

Sumber: IG KLG
Achmad Irfandi adalah pemuda yang berasal dari Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, jawa Timur. Irfandi tergerak mendirikan Kampung Lali Gadget (KLG), yaitu taman belajar untuk anak, yang program utamanya adalah mencegah anak dari bahaya kecanduan gadget.
Irfandi aktif dalam kegiatan pramuka sejak SMP. Setelah lulus SMA, Irfandi menempuh pendidikan di Universitas Negeri Surabaya, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sampai gelar master. Aktivitas sejak SMP dan dunia literasi yang digeluti semasa kuliah, membuat keinginan Irfandi dalam menyelamatkan generasi muda, semakin kuat.

Sumber: IG KLG
Irfandi memulai program KLG tahun 2018. Pada saat itu dia mengadakan kegiatan literasi untuk anak, setiap dua minggu sekali. Konsepnya adalah bermain sambil belajar. Irfandi mengembalikan perhatian anak-anak, dari yang selalu ke gadget, ke permainan tradisional. Bentuk permainan tradisionalnya adalah egrang, lompat tali, bermain di tanah/lumpur/sawah, bermain daun, bermain batu, dan lain-lain.
Setiap minggu, bentuk permainannya berganti-ganti, tetapi tetap berupa permainan tradisional. Permainan ini bisa membuat anak-anak berinteraksi dengan teman-temannya, bersentuhan dengan alam, dan mengeksplorasi
Melakukan permainan tradisional berarti membutuhkan lahan. Irfandi pun meminjam lahan milik warga, seluas 40 x 45 meter. Lahan kosong di luar rumah ini dijadikan sebagai tempat bermain anak-anak.
Selain permainan tradisional, Irfandi juga memberikan edukasi berupa olahraga, edukasi satwa, aktivitas budaya, serta kegiatan kearifan lokal.
Menggandeng Masyarakat
Dalam menyukseskan programnya, Irfandi merasa harus menggandeng masyarakat. Masyarakat membuat berbagai mainan tradisional seperti kitiran klutuk, kitiran bambu, seruling bambu, gasing bunyi, dan mainan lainnya. Dengan demikian, masyarakat mengetahui program ini secara keseluruhan dan ikut andil dalam mensosialisasikan, bahkan ikut menerapkan pada anak-anaknya. Irfandi juga melebarkan sayap dengan menggandeng komunitas dan perguruan tinggi, terutama dalam mengembangkan permainan tradisional, sehingga anak-anak tidak pernah bosan mengikuti program KLG.

Sumber: IG KLG
Program ini pun menampakkan hasil. Anak-anak tidak lagi terlalu lama berada di depan gadget. Mereka senang bermain dengan teman-temannya, dengan cara tatap muka. Lama kelamaan kegiatan ini diketahui masyarakat lebih luas, karena sudah ada terlihat dampak positifnya. Saat ini sudah ada 475 anak dari Surabaya dan Sidoarjo yang bergabung untuk mengikuti program KLG.
Harapan Irfandi, ke depannya anak-anak Indonesia kembali lagi ke fitrah sebagai anak yang bermain dengan gembira dengan dunia nyata, meskipun tetap bisa mengoperasikan gadget dan tidak ketinggalan zaman. Anak-anak inilah yang akan menjadi ahli waris permainan tradisional yang ada di negeri ini.

Sumber: IG KLG
Desa Wisata Edukasi
Program KLG ini membuat Irfandi menjadi sosok yang inspiratif dan mendapatkan apresiasi SATU Indonesia Award 2021.
Sebenarnya Irfandi tidak ingin program ini berhenti sampai titik ini. Lebih jauh lagi, Irfandi berharap program ini bisa berkembang, dan desa tersebut menjadi desa wisata edukasi. Orangtua yang menginginkan anaknya sembuh dari kecanduan gawai, dapat datang ke desa ini untuk kembali bermain di alam bersama teman-teman.

Sumber: IG KLG
Gadget dan dunia digital memang tidak bisa dicegah atau dibendung. Namun, adanya program ini seharusnya tidak membuat anak-anak terkena dampak negatifnya. Oleh karena itu, sangat diperlukan program seperti KLG untuk menjaga perkembangan anak.
