Pulau Bali selalu punya cara unik dalam merayakan sesuatu, termasuk tentang rumah. Di tengah hiruk-pikuk pariwisata yang kembali menggeliat pascapandemi, gelaran Home Deco Expo 2024 yang berlangsung pada 12-15 September lalu di Bali Nusa Dua Convention Center menjadi bukti bahwa industri properti dan desain interior di Pulau Dewata sedang memasuki babak baru. Tidak seperti pameran pada umumnya yang kaku dan sarat angka, expo kali ini terasa lebih cair, penuh warna, dan, yang paling mencolok, dipadati oleh pengunjung muda. Mereka adalah calon pembeli rumah pertama sekaligus creative nomad, pekerja lepas, pasangan muda, hingga kolektor barang rupa yang ingin memahami properti dari sudut pandang gaya hidup.

Fenomena ini menarik karena selama ini properti identik dengan investasi jangka panjang, KPR, dan beban finansial berat. Namun, di Home Deco Expo 2024, narasi itu mulai bergeser. Anak muda tidak datang semata-mata untuk membandingkan harga rumah atau melihat denah. Mereka datang untuk merasakan bagaimana sebuah ruang bisa menjadi kanvas ekspresi diri. Stand-stand pameran yang didesain seperti kafe kekinian, studio seni mini, hingga podcast booth interaktif menunjukkan bahwa properti kini menjadi merangkap menjadi cerita, suasana, dan keberlanjutan. Lalu, apa sebenarnya yang membuat generasi muda Bali begitu antusias terhadap properti saat ini? Bagaimana Home Deco Expo 2024 menjadi cermin pergeseran itu? Mari kita bedah dalam empat sudut pandang berikut!
Desain Interior sebagai Bahasa Generasi Z
Jika dulu orang tua bicara properti dari sisi lokasi strategis dan nilai jual kembali, anak muda di Home Deco Expo 2024 justri terpukau oleh stand-stand bertema tropical brutalism, wabi-sabi, hingga neo-Bali yang menggabungkan kayu ulin dengan furnitur modular. Salah satu tenant paling ramai dikunjungi adalah studio desain lokal “Ruang Bumi” yang memamerkan konsep rumah mungil 36 m² dengan pencahayaan alami dan furnitur multifungsi. Ratusan pengunjung rela mengantre hanya untuk berfoto di sudut taman vertikal dan meja panjang dari palet bekas.
Menurut survei cepat yang dilakukan panitia kepada 200 pengunjung di bawah 30 tahun, 78% dari mereka mengaku pertama kali tertarik pada properti setelah melihat konten home tour di TikTok atau Instagram Reels. Artinya, estetika visual menjadi pintu masuk utama. Mereka tidak ingin rumah sekadar “layak huni”, tetapi juga “Instagramable” dan nyaman dijadikan latar kerja jarak jauh. Home Deco Expo 2024 menangkap peluang ini dengan menggandeng puluhan micro-influencer desain interior untuk membuat tur langsung dan live sketching. Hasilnya, pameran ini mencatat lebih dari 12.000 pengunjung selama empat hari. Naik 40 persen dari tahun sebelumnya.
Tren Micro-Livingdan Work-from-Anywhere
Salah satu sub-tema yang paling menonjol di expo ini adalah micro-living. Rumah tapak kecil, apartemen studio dan co-living space, disulap menjadi ekosistem kerja-produktif. Anak muda Bali, khususnya yang bekerja di sektor kreatif dan teknologi, mulai meninggalkan obsesi rumah besar dengan halaman luas. Mereka lebih memilih properti yang dekat dengan community center, akses internet cepat, dan ruang bersama yang terawat.
Pada sesi diskusi “Properti 30 Meter, Cukupkah?”, hadir tiga narasumber dari kalangan milenial yang sukses menjadikan properti mungil mereka sebagai rumah sekaligus studio podcast, galeri mini, hingga kafe privat. Mereka sepakat bahwa properti bukan diukur dari luas meter, tetapi dari kemampuan ruang beradaptasi dengan aktivitas pemiliknya. Home Deco Expo 2024 menampilkan tiga unit contoh rumah mikro dengan luas 24, 28, dan 32 meter persegi yang dilengkapi zona kerja lipat, penyimpanan vertikal, dan area jemur yang bisa disulap menjadi ruang meditasi. Tidak heran jika stand ini selalu penuh sesak, dan hingga hari terakhir banyak pengunjung yang bertanya soal konsultasi renovasi ulang properti mereka sendiri.

Dari Properti Sekunder Menjadi Primadona
Daya tarik lain expo ini adalah zona “Rumah Lama, Jiwa Baru” yang didedikasikan untuk properti sekunder dan rumah warisan. Menariknya, pengunjung di zona ini justru didominasi anak berusia 24-28 tahun, usia yang biasanya masih berpikir untuk menyewa kontrakan. Mereka datang dengan membawa foto dapur rumah orang tua atau sudut ruang tamu yang tidak terpakai, lalu meminta saran dari desainer interior tentang cara menata ulang tanpa merombak total.
Hal ini menunjukkan bahwa persepsi properti mulai bergeser dari “milik sendiri harus dari nol” menjadi “optimalisasi apa yang sudah ada”. Salah satu program paling populer di expo adalah lomba Low-Budget Room Makeover Challenge yang diikuti 20 tim anak muda. Mereka diberikan furnitur bekas, cat sisa proyek, dan tanaman hias dengan anggaran maksimal Rp2 juta. Hasilnya luar biasa. Ruang sempit berubah menjadi sudut baca nyaman, dapur mungil menjadi area kopi estetik, dan teras kosong menjadi ruang kerja semiterbuka. Para peserta mengaku bahwa lewat kegiatan ini, mereka mulai berani berinvestasi pada properti skala kecil, baik rumah kontrakan maupun rumah orang tua yang hendak ditempati bersama pasangan.
Dekorasi sebagai Bentuk Aktualisasi Diri
Poin keempat mungkin yang paling menarik, yaitu anak muda tidak lagi memandang properti secara transaksional. Saat ditanya “Kenapa kamu datang ke pameran properti padahal belum punya rumah sendiri?”, mayoritas menjawab bahwa dekorasi rumah (baik rumah sendiri, kos, maupun kamar kontrakan) adalah bentuk kontrol atas ruang personal di tengah dunia yang serba tak menentu. Home Deco Expo 2024 menyediakan sesi mindful decorating workshop yang laris manis, di mana para peserta diajarkan memilih warna cat berdasarkan suasana hati, menata barang sesuai prinsip feng shui modern, hingga memanfaatkan limbah kayu untuk rak dinding.
Hal ini mengubah cara pandang terhadap properti secara fundamental. Properti bukan lagi sekadar aset yang harganya naik 10 tahun lagi, melainkan medium kebahagiaan harian. Seorang pengunjung bernama Dewa, 26 tahun, pekerja di bidang konten kreatif, mengatakan, “Saya belum mampu beli rumah, tapi saya bisa mengubah kamar kontrakan saya 3×4 meter menjadi tempat yang saya banggakan. Itu sudah cukup membuat saya merasa ‘memiliki’ suatu properti, meski hanya sementara.” Pernyataan seperti ini menjelaskan mengapa stand penjualan lampu hias, rak dinding, tanaman hias, dan permadani selalu lebih ramai daripada stand agen properti konvensional.

Home Deco Expo 2024 menjadi penanda bahwa generasi muda Bali, dan mungkin Indonesia pada umumnya, telah memasuki era baru dalam memaknai hunian. Rumah tidak lagi dilihat sebagai beban atau investasi dingin, melainkan sebagai ruang ekspresi, tempat beristirahat dari dunia maya, dan proyek kreatif tanpa batas. Pihak penyelenggara pun berjanji tahun depan akan menghadirkan lebih banyak konten edukasi soal properti ramah kantong muda, seperti skema KPR berbasis portofolio kreatif dan komunitas co-renovation.
