Semua orang pasti pernah mengalami luka fisik, baik luka ringan karena terjatuh maupun luka berat akibat penyakit tertentu. Memiliki luka di tubuh, tidak boleh dianggap sepele. Sebab, tidak semua orang bisa menganggap luka adalah hal sederhana. Terutama penderita diabetes, orang yang mengalami luka prah, dan orang yang mendapat luka karena kanker.

Sumber: Instagram Hasyim
Mengalami luka karena penyakit tertentu, memberikan reaksi berbeda bagi setiap orang. Apalagi jika luka tersebut tidak kunjung sembuh. Kualitas hidup orang tersebut pun akan berkurang perlahan-lahan. Parahnya lagi, luka kronis dapat merendahkan citra diri seseorang karena tubuhnya tak lagi optimal.
Pedis Care, Merawat Luka Tanpa Duka untuk Warga Tidak Mampu
Permasalahan luka kronis yang menyerang banyak orang dan sampai menurunkan jati diri orang tersebut membuat Ahmad Hasyim Wibisono merasa terpanggil. Pria kelahiran Malang, 1 Juli 1986 ini merasa tertantang untuk membantu meringankan beban para pasien luka kronis, terutama luka akibat diabetes, yang membutuhkan perawatan khusus. Melalui Pedis Care, Hasyim menerapkan cita-citanya.

Sumber: Instagram Hasyim
Hasyim yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Brawijaya, punya pemikiran berbeda dari kebanyakan orang. Dia justru berpikir bahwa wirausaha tidak harus bertujuan mendapat materi, tetapi bisa dalam bentuk dampak nyata untuk masyarakat dan lingkungan sekitar. Melalui pemikiran ini, Hasyim mendirikan Pedis Care.
Program utama Pedis Care adalah memberi pelayanan pada masyarakat, yaitu membantu orang-orang yang memiliki luka kronis, baik dalam penyembuhan lukanya maupun kondisi mental penderitanya. Bentuk pelayanannya adalah perawatan luka dan konsultasi perawat pribadi. Pedis Care juga hadir sebagai Pedis Care foundation. Hal ini sesuai dengan aktivitas rutin Hasyim berupa program peduli sesama.
Pedis Care foundation menerapkan sistem subsidi silang. Sistem tersebut memungkinkan para pasien kurang mampu mendapat bantuan dari pasien mampu. Sumber dana yang didapat juga berasal dari kerja sama dengan beberapa instansi kesehatan maupun badan amal. Oleh karena itu, Pedis Care tidak mematok harga terhadap tindakan rawat luka. Bahkan, Pedis Care sering memberikan potongan 50% kepada pasien kurang mampu untuk satu kali perawatan luka.
Awal Mula Berdirinya Pedis Care
Pada awal berdiri, yaitu tahun 2015, Pedis Care hanya memiliki tiga personil. Seiring berjalannya waktu, Pedis Care semakin berkembang dan sekarang memiliki lebih dari 50 tenaga medis aktif. Basis pelayanan yang ditawarkan juga punya cakupan cukup luas yaitu di Malang dan Sidoarjo.
Saat awal berdiri, Pedis Care hanya terfokus pada perawatan luka terutama luka diabetes parah. Pelayanan kemudian berkembang, yaitu menyediakan jasa homecare 24 jam. Homecare ini ditangani langsung oleh tenaga profesional yang disebut Pedis Caregiver. Setelah melihat banyak pihak tertarik di bidang pelayanan kesehatan berbasis bisnis, Pedis Care juga mengadakan pelatihan perawatan luka CWCCA dan healthpreneur class
Perawatan Luka yang Tidak Biasa
Hasyim sudah lama ingin membantu memberikan perawatan luka diabetes, hingga akhirnya berhasil mendirikan Pedis Care. Hasyim berharap kehadiran Pedis Care dapat memberikan perawatan terbaik kepada pasien dengan luka diabetes di area kaki, agar tidak selalu berakhir di meja operasi untuk amputasi.

Sumber: Instagram Hasyim
Keunggulan Pedis Care yaitu memberikan perawatan luka yang berbeda dari fasilitas kesehatan konvensional. Bedanya adalah, Pedis Care memberi perawatan perawatan sesuai kondisi pasien. Penanganan luka yang ditawarkan juga sudah menggunakan metode modern yang ditangani langsung oleh tenaga kesehatan standar Pedis Care.
Tidak hanya penanganan luka yang berbeda, Pedis Care juga punya alat dan bahan dengan spesifikasi khusus. Dengan demikian, perawatan ini punya tingkat penyembuhan luka mencapai 80% untuk luka biasa dan mencapai 88% untuk luka diabetes.
Hasyim menjelaskan bahwa ada salah satu tahap krusial dalam menangani luka pasien, yaitu mengetahui dimensi luka. Semakin cepat tenaga kesehatan mengetahui dimensi luka, akan semakin tepat pula strategi perawatan yang diberikan kepada pasien. Apalagi dimensi luka melalui Pedis Care dapat diketahui secara instan menggunakan teknologi AI dan berbekal koneksi dengan pengembang perangkat luka di Malaysia.
Kegigihan Membawa Hasyim Menjadi Pemenang SATU Indonesia Awards 2019
Sejak awal mendirikan Pedis Care, Hasyim sering menelan pil pahit akan penolakan dari banyak orang. Tiga bulan pertama berdirinya Pedis Care, tidak ada pasien yang datang. Kondisi tersebut tidak lantas membuat Hasyim menyerah, melainkan mengerahkan seluruh tenaganya, termasuk melakukan promosi agar Pedis Care dikenal banyak orang.

Sumber: Instagram Hasyim
Perjuangannya tidak sia-sia. Strategi-strategi baru yang diterapkan Hasyim membuahkan hasil. Pedis Care yang awalnya tidak memiliki aktivitas karena kekosongan pasien, secara perlahan-lahan bangkit. Sedikit demi sedikit, pasien datang untuk mendapatkan penanganan luka tanpa takut berduka karena kekurangan dana.
Melalui proses panjang yang dilakukan Hasyim dan tim, Pedis Care dapat dikenal masyarakat luas. Bahkan Hasyim berhasil memenangkan SATU Indonesia Awards 2019, yang diselenggarakan oleh PT Astra International, Tbk.
Hasyim tidak akan berhenti sampai di sini. Selagi masih ada orang yang membutuhkan, Hasyim akan terus menerapkan program-program Pedis Care agar semakin banyak lagi orang yang terbantu untuk kembali sehat.
