Hendro Yulius Suryo, Pendidik Generasi Muda Melalui Robotika

Teknologi yang terus berkembang pesat mengharuskan para generasi muda untuk mempelajarinya agar tidak tertinggal. Belajar teknologi tentu perlu dilakukan sejak masih kanak-kanak, baik di bawah bimbingan guru maupun orang tua. Anak menjadi cerdas sebenarnya bukan hanya karena belajar teori melalui buku, tetapi juga lewat praktik. Dengan demikian, anak-anak bisa belajar mengatasi kegagalan dan berusaha mencari solusi.

Sumber: Pixabay

Salah satu cara belajar teknologi adalah membuat dan memahami robotika. Belajar  robotika membuat anak-anak dapat mengasah kemampuan motorik, kognitif, afektif, kerja sama, kolaborasi, sampai keberanian untuk mencoba tanpa takut gagal.

Terobosan Baru pada Pekerjaan Baru

Hendro Yulius Suryo merupakan pionir pendidikan robotika dari Kota Surabaya yang berhasil menumbuhkan semangat anak-anak muda. Dia memulai langkahnya dengan bermodal tekad besar, visioner, ikhlas, dan inovasi-inovasi dalam memajukan peradaban melalui pendidikan. Meski di bidang akademik tidak pernah bersentuhan dengan dunia robotika secara langsung, kepedulian terhadap masa depan generasi bangsa membuat Hendro tergerak untuk belajar secara otodidak.

Segalanya bermula pada 2011 ketika Hendro dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah SMP Islam Al-Azhar 13 Surabaya. Sejak awal mengisi posisi tersebut, Hendro sudah dihadapkan dengan masa transisi, yaitu sekolah yang dia pimpin terancam tutup karena mulai sepi peminat. Hendro berpikir keras untuk melakukan terobosan baru agar sekolah tersebut bisa keluar dari masa transisi.

Upaya Mendirikan Ekskul Robotika

Pada akhirnya, kondisi sekolah membuat Hendro mantap mendirikan kegiatan ekstrakurikuler robotik. Dalam memulai misinya, Hendro membangun komunikasi serta kerja sama dengan berbagai pihak. Dua di antaranya adalah kampus berbasis teknologi ternama yaitu ITS dan PENS. Setelah itu Hendro merekrut seorang pelatih dari ITS untuk membimbing siswanya di bidang robotika.

Sumber: Awgroboticcourse

Pelatih diberi target, dalam waktu 10 bulan harus bisa melatih siswanya untuk ikut berbagai ajang perlombaan hingga meraih juara. Namun prestasi tersebut tidak mudah dicapai, terlebih karena ini masih langkah awal Hendro dalam merintis ekstrakurikuler robotika. Hal tersebut tidak membuat Hendro menyerah. Dia tetap kembali berjuang mencari pelatih dari PENS, melakukan diskusi, menata semua program dan memulainya dari awal.

Pada awal terbentuknya, hanya ada delapan siswa yang berminat mengikuti ekstrakurikuler dan dibimbing oleh pelatih. Tekad besar dan usaha keras Hendro bersama pelatih, akhirnya membuahkan hasil. Pada ajang lomba pertama yang diikuti, yaitu ITS Ekspo tahun 2012, tim Hendro berhasil meraih juara pertama. Ini adalah awal yang luar biasa bagi Hendro.

Hendro merasa hasil kerja kerasnya bersama tim menemukan titik terang. Mereka berhasil mencetak siswa andal di bidang robotika. Pencapaian tersebut membuat Hendro kembali dengan aksi nekatnya. Tahun 2014 Hendro memberanikan diri mendaftarkan siswanya untuk mengikuti ajang tingkat internasional di Beijing, China. Berbagai persiapan pun dilakukan. Hendro bekerja sama dengan tim, pelatih, bahkan orang tua siswa, sampai akhirnya berhasil meraih spesial award dari ajang tersebut.

Sukses Mempertahankan Sekolah

Seringnya mengikuti berbagai ajang perlombaan membuat masyarakat dan publik menganggap SMP Islam Al-Azhar 13 Surabaya sebagai lumbung siswa pakar robotika. Sejak saat itu, banyak siswa yang mendaftar ke sekolah  karena tertarik belajar tentang robotika. Pada akhirnya sekolah yang nyaris tutup tersebut dapat bangkit kembali, bahkan mengalami perkembangan pesat.

Berkat prestasinya, Hendro diangkat menjadi kepala sekolah SMP Islam Al-Azhar 13 Surabaya, tahun 2016. Selanjutnya, Hendro menggabungkan kurikulum Cambridge dengan kurikulum nasional di sekolahnya. Hal tersebut membuat SMP tersebut menjadi sekolah muslim di Surabaya bertaraf internasional, pada 2017.

Mendirikan Sekolah Robotik

Semangat Hendro terus membara.  Dia masih ingin mengembangkan kesuksesan tersebut ke sekolah lain di Indonesia. Bersama ketiga rekannya, Hendro kemudian mendirikan lembaga sekolah robotik secara independen bernama AWG (Adicita Wiraya Guna) Robotic Course, tahun 2017.

Sumber: Antaranews

AWG Robotic Course berhasil meraih beberapa prestasi membanggakan sehingga membuat banyak sekolah tertarik bekerja sama. Sudah lebih dari 20 sekolah dari Sidoarjo, Surabaya, Jombang, Pasuruan, Sorong, Palu, Makassar yang bekerja sama dengan sekolah robotik milik Hendro.  Jumlah muridnya sudah lebih dari 300 anak.

Raih Penghargaan SATU Indonesia Awards 2019

Energi Hendro yang seakan tidak pernah habis pun membawanya meraih penghargaan SATU Indonesia Awards tahun 2019 di bidang teknologi. Program ini diprakarsai oleh PT Astra International, Tbk. Hendro pantas mendapat penghargaan tersebut berkat kegigihannya mengenalkan dunia robotik kepada generasi muda.

Sumber: Viva Jatim

Kerja keras Hendro tidak hanya mengharumkan wilayah Surabaya, tetapi juga wilayah-wilayah lainnya yang telah bekerja sama dengan sekolah AWG Robotic Course miliknya.